Tujuan Pendidikan: Tenaga Terampil atau Pemimpin Visioner?
Kamis, 09 Januari 2025 · Admin
Pertanyaan tentang tujuan pendidikan selalu menarik untuk diuraikan. Di beberapa lembaga, pertanyaa seperti ke UDN apa yang kau cari? Merupakan pertanyaan filosofis terkait tujuan pendidikan. Apa sejatinya tujuan pendidikan kita? Apakah hanya untuk membentuk individu terampil yang siap bekerja dalam sistem yang ada, atau mendidik pemimpin visioner yang mampu merancang perubahan besar?
Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kita jawab dengan pernyataan KH. Hadiyanto Arief, pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah, berikut ini: "Sekolah mahal itu bukan dinilai dari bayarannya atau fasilitasnya, tapi dari cita-cita yang diperjuangkannya."
Kalimat ini apabila diresapi bisa menggetarkan nurani. Bagaimana tidak, di era ini lebih banyak lembaga yang berloba-lomba memperbaiki bungkus, tapi lupa dengan isisnya. Pertanyaannya, apakah pendidikan kita telah berubah arah? Apakah lembaga pendidikan kita, dengan segala keunggulannya, lebih sering menjadi tempat mencetak "pengikut" daripada membentuk "pemimpin"?
Coba perhatikan analogi ini, sebuah kapal besar yang berlayar menuju tujuannya. Di mana seluruh awak diajarkan cara mengelola mesin, membersihkan dek, dan memastikan kapal tetap berjalan. Namun, tak ada yang diajarkan bagaimana menentukan arah atau memimpin perjalanan. Akhirnya, kapal itu hanya berputar-putar tanpa tujuan. Inilah gambaran pendidikan kita saat ini: sibuk melatih keterampilan teknis, tetapi abai pada visi besar membentuk pemimpin yang mampu menjadi nahkoda bagi masyarakat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 70% lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja dalam sektor formal sebagai tenaga profesional. Sementara itu, hanya sekitar 3% yang memilih menjadi wirausahawan atau pembuka jalan baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan kita lebih banyak mencetak tenaga terampil untuk mengikuti sistem, bukan menciptakan pemimpin yang mampu menggagas perubahan besar.
Ayah Dedy, panggilang akrab KH. Hadiyanto Arief mengingatkan kita pada makna mendalam dari kepemimpinan. Beliau mengutip perlataan Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan, "Jika aku hanya memiliki satu doa yang akan dikabulkan, maka aku akan mendoakan hadirnya pemimpin yang baik." Pernyataan ini sarat hikmah: pemimpin yang baik bukan hanya pembuat keputusan, tetapi juga pencetak jejak kebaikan yang manfaatnya dirasakan luas oleh umat manusia.
Pondok Pesantren Darunnajah memberikan teladan indah tentang pendidikan yang memprioritaskan kaderisasi pemimpin. Di pesantren ini, santri tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga ditempa dengan nilai-nilai kepemimpinan melalui berbagai kegiatan nyata. Salah satunya adalah Laporan Pertanggungjawaban dan Pergantian Pengurus Organisasi Santri, kegiatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi proses pembelajaran tentang tanggung jawab, visi, dan keberanian mengambil keputusan.
Coba bandingkan hal ini dengan banyak lembaga pendidikan formal yang cenderung berfokus pada nilai akademis semata. Siswa diajarkan untuk "lulus" dan "bekerja," tetapi jarang diberi ruang untuk bermimpi besar atau dilatih untuk memimpin. Pendidikan seperti ini ibarat melatih seseorang untuk berjalan tanpa mengajarkannya untuk melihat jauh ke depan.
Pertanyaannya, apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan pendidikan ke jalur yang benar? Pertama, kita perlu mendesain ulang kurikulum yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga membangun karakter visioner. Pendidikan harus memprioritaskan nilai-nilai seperti keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir kritis.
Kedua, lembaga pendidikan harus mengajarkan siswa untuk memandang kesuksesan bukan hanya dari aspek materi, tetapi dari manfaat yang mereka berikan kepada orang lain. Kita harus menginspirasi mereka untuk tidak hanya bekerja dalam sistem, tetapi menciptakan perubahan besar di dalamnya.
Seperti yang diungkapkan Ayah Dedy, sekolah mahal bukan tentang gedung megah atau fasilitas canggih, melainkan tentang visi besar yang ia tanamkan kepada generasi muda. Sebuah sekolah yang baik bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membangun cita-cita yang luhur.
Jika pendidikan terus berfokus pada keterampilan tanpa visi, kita hanya akan menghasilkan "awak kapal" yang ahli, tetapi tanpa nahkoda yang tahu ke mana harus berlayar. Namun, jika kita berani mengubah orientasi pendidikan menjadi pembibitan pemimpin, Indonesia bisa menjadi bangsa besar yang memimpin dunia dengan kebijaksanaan.
Pertanyaan kembali, apakah kita ingin pendidikan kita mencetak tenaga-tenaga terampil semata, atau melahirkan pemimpin yang mampu membawa bangsa ini menuju kemuliaan? Jawaban atas pertanyaan ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kini saatnya kita mengambil langkah nyata untuk mengembalikan pendidikan pada hakikatnya: membentuk manusia yang mampu membawa perubahan besar, bukan sekadar menjadi roda dalam sistem.