SANTRI ZAMAN NOW DI PESANTREN TAHFIZH INSAN PRATAMA SUKAMULYA TANGERANG
Sabtu, 28 September 2024 · Admin
Jum’at, 27 September 2024, pengelola Universitas Darunnajah (UDN) beranjak ke pesantren tahfizh Insan Pratama 2, di Jl. Merpati Raya, Benda, kecamatan Sukamulya kabupaten Tangerang Banten. Adapun tim yang berangkat dari pengelola UDN adalah Muhamad Towil Akhirudin, Pauly Demanda, Kalistya Rizki Pratondo, dan Azrul, serta Yogi dari mahasiswa UDN. Kegiatan yang bernama Darunnajah University Goes to Pesantren membawa tema Santri Zaman Now: Combining Tradition Technology for the Future.
Kami disambut oleh ustaz Anis Fuad selaku kepala SMA Qur’an Insan Pratama. Dan ternyata beliau alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2008. Pesantren ini dipimpin oleh KH. Dr. Ali Mukafi, M.Ag. Sedangkan pesantren ini bervisikan “Menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul dalam mencetak penghafal Al Qur’an dan insan soleh serta memiliki kompetensi di bidang umum dan kemandirian hidup, guna memperoleh kehidupan yang sukses & bahagia dunia akhirat.
Muhamad Towil Akhirudin selaku dosen UDN yang ditugaskan pertama kali memberikan kuliah, setelah sambutan pembukaan dari kepala SMA. Di kesempatan berharga tersebut, Towil menyampaikan tentang Santri Zaman Now diawali dengan manusia yang dibagi dalam empat tipe. Hal ini berdasarkan kutipan di kitab Ihya Ulumuddin Imam Ghazali, yang mengutip dari Al Khalil bin Ahmad. Tipe pertama adalah rajulun yadri wa yadri annahu yadri, fadzalika ‘alimun fatba’uhu (manusia yang tahu, dan ia tahu bahwa ia tahu, itulah orang alim, maka ikutilah). Kedua adalah rajulun yadri wala yadri annahu yadri, fadzalika naimun faayqizhuhu (manusia yang tahu, dan ia tidak tahu bahwa ia tahu, itulah orang yang sedang tidur, maka bangunkanlah). Ketiga yaitu rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri, fadzalika mustarsyidun faarsyiduhu (manusia yang tidak tahu, dan ia tahu bahwa ia tidak tahu, itulah orang yang meminta petunjuk, maka berikanlah petunjuk. Dan yang terakhir adalah rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri, fadzalika jahilun farfudhuhu (manusia yang tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu, itulah orang bodoh, maka tinggalkanlah.
Towil melanjutkan dengan mengharapkan santri-santri Insan Pratama sebagai Santri Zaman Now menjadi tipe manusia yang pertama, yaitu rajulun yadri wa yadri annahu yadri, fadzalika ‘alimun fatba’uhu (manusia yang tahu, dan ia tahu bahwa ia tahu, itulah orang alim, maka ikutilah). Menjadi santri yang alim yang akan diikuti. Dan untuk itu, perlu diperhatikan oleh santri akan tiga hal berikut sebagai tantangan zaman now. Yaitu agama, bisnis dan sains teknologi.
Agama dalam hal ini adalah Islam adalah jelas yang dipelajari dan dipegang teguh oleh santri-santri. Menjadi pedoman hidup. Sedangkan bisnis adalah aktivitas yang telah dilakukan Rasulullah shallallah ‘alaih wasallam sejak mudanya. Maka dapat diharapkan santri zaman now dapat menjadi bisnisman. Menjadi pengusaha yang tetap berlandaskan syariat Islam.
Santri juga harus menguasai sains dan teknologi. Bahwa sejak zaman Nabi, sains dan teknologi menjadi hal yang diperhatikan. Seperti sebuah cerita manakala Nabi Muhammad disengat kalajengking, kemudian beliau meminta garam dan air, lalu meletakkannya pada sebuah wadah, kemudian menuangkannya pada jari beliau pada area yang disengat. Beliau usap-usap sambil membaca surat al Ikhlas dan surat Mu’awwidzatain (al Falaq dan an Nas). Nyatanya bahwa garam memiliki kandungan, mineral, natrium dan sodium. Dan itu dapat membantu menetralisir racun. Maka itulah sains. Belum lagi perihal teknologi. Seperti cerita nabi dan sahabat-sahabatnya saat melakukan proses eksperimen penyerbukan pohon kurma. Yang kesimpulannya adalah nabi menyerahkan urusan tersebut kepada para sahabat.
Menutup kuliah, Towil menganjurkan santri-santri untuk tetap dapat melaksanakan proses pendidikan. Tidak hanya di pendidikan menengah, namun juga pendidikan tinggi. Dan dalam hal ini, Universitas Darunnajah sebagai lembaga pendidikan tinggi, telah memperhatikan tiga hal berupa agama, bisnis, sains dan teknologi. Hal ini terbukti dengan adanya Fakultas Agama Islam, Fakultas Bisnis, dan Fakultas Sains dan Teknologi.
Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Universitas Darunnajah, program studi, kegiatan-kegiatannya, pembiayaan, beasiswa, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut disampaikan secara bergiliran oleh Yogi, Azrul, dan Pauly. Dengan Kalistya sebagai moderator. Santri-santri pun sangat antusias memperhatikan pemaparan para pemateri. Dibuktikan dengan pertanyaan dari santri-santri baik putra maupun putri.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari UDN ke pesantren. Begitupun sebaliknya. Dilanjutkan dengan perfotoan dan ramah tamah.
Towil Akhirudin
Dosen Universitas Darunnajah
Muhamad Towil Akhirudin selaku dosen UDN yang ditugaskan pertama kali memberikan kuliah, setelah sambutan pembukaan dari kepala SMA. Di kesempatan berharga tersebut, Towil menyampaikan tentang Santri Zaman Now diawali dengan manusia yang dibagi dalam empat tipe. Hal ini berdasarkan kutipan di kitab Ihya Ulumuddin Imam Ghazali, yang mengutip dari Al Khalil bin Ahmad. Tipe pertama adalah rajulun yadri wa yadri annahu yadri, fadzalika ‘alimun fatba’uhu (manusia yang tahu, dan ia tahu bahwa ia tahu, itulah orang alim, maka ikutilah). Kedua adalah rajulun yadri wala yadri annahu yadri, fadzalika naimun faayqizhuhu (manusia yang tahu, dan ia tidak tahu bahwa ia tahu, itulah orang yang sedang tidur, maka bangunkanlah). Ketiga yaitu rajulun la yadri wa yadri annahu la yadri, fadzalika mustarsyidun faarsyiduhu (manusia yang tidak tahu, dan ia tahu bahwa ia tidak tahu, itulah orang yang meminta petunjuk, maka berikanlah petunjuk. Dan yang terakhir adalah rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri, fadzalika jahilun farfudhuhu (manusia yang tidak tahu, dan ia tidak tahu bahwa ia tidak tahu, itulah orang bodoh, maka tinggalkanlah.
Towil melanjutkan dengan mengharapkan santri-santri Insan Pratama sebagai Santri Zaman Now menjadi tipe manusia yang pertama, yaitu rajulun yadri wa yadri annahu yadri, fadzalika ‘alimun fatba’uhu (manusia yang tahu, dan ia tahu bahwa ia tahu, itulah orang alim, maka ikutilah). Menjadi santri yang alim yang akan diikuti. Dan untuk itu, perlu diperhatikan oleh santri akan tiga hal berikut sebagai tantangan zaman now. Yaitu agama, bisnis dan sains teknologi.
Agama dalam hal ini adalah Islam adalah jelas yang dipelajari dan dipegang teguh oleh santri-santri. Menjadi pedoman hidup. Sedangkan bisnis adalah aktivitas yang telah dilakukan Rasulullah shallallah ‘alaih wasallam sejak mudanya. Maka dapat diharapkan santri zaman now dapat menjadi bisnisman. Menjadi pengusaha yang tetap berlandaskan syariat Islam.
Santri juga harus menguasai sains dan teknologi. Bahwa sejak zaman Nabi, sains dan teknologi menjadi hal yang diperhatikan. Seperti sebuah cerita manakala Nabi Muhammad disengat kalajengking, kemudian beliau meminta garam dan air, lalu meletakkannya pada sebuah wadah, kemudian menuangkannya pada jari beliau pada area yang disengat. Beliau usap-usap sambil membaca surat al Ikhlas dan surat Mu’awwidzatain (al Falaq dan an Nas). Nyatanya bahwa garam memiliki kandungan, mineral, natrium dan sodium. Dan itu dapat membantu menetralisir racun. Maka itulah sains. Belum lagi perihal teknologi. Seperti cerita nabi dan sahabat-sahabatnya saat melakukan proses eksperimen penyerbukan pohon kurma. Yang kesimpulannya adalah nabi menyerahkan urusan tersebut kepada para sahabat.
Menutup kuliah, Towil menganjurkan santri-santri untuk tetap dapat melaksanakan proses pendidikan. Tidak hanya di pendidikan menengah, namun juga pendidikan tinggi. Dan dalam hal ini, Universitas Darunnajah sebagai lembaga pendidikan tinggi, telah memperhatikan tiga hal berupa agama, bisnis, sains dan teknologi. Hal ini terbukti dengan adanya Fakultas Agama Islam, Fakultas Bisnis, dan Fakultas Sains dan Teknologi.
Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Universitas Darunnajah, program studi, kegiatan-kegiatannya, pembiayaan, beasiswa, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut disampaikan secara bergiliran oleh Yogi, Azrul, dan Pauly. Dengan Kalistya sebagai moderator. Santri-santri pun sangat antusias memperhatikan pemaparan para pemateri. Dibuktikan dengan pertanyaan dari santri-santri baik putra maupun putri.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari UDN ke pesantren. Begitupun sebaliknya. Dilanjutkan dengan perfotoan dan ramah tamah.
Towil Akhirudin
Dosen Universitas Darunnajah